
Mawapala adalah unit organisasi kepencintaalaman yang ada di UIN Walisongo Semarang. Mawapala memiliki beberapa divisi, salah satunya yaitu Divisi Caving. Divisi Caving merupakan divisi yang bergerak di bidang penelusuran gua. Tanggal 18 – 20 Juli 2025, Divisi Caving melaksanakan jenjang Pendidikan bagi Warga Muda, yaitu Praktik Lapangan. Praktik Lapangan adalah kegiatan turun ke medan untuk mempraktikkan materi yang didapatkan selama Masa Bimbingan. Praktik Lapangan merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan jenjang Pendidikan di Mawapala. Kegiatan ini akan dilaksanakan di Gua Seplawan dan Gua Temanten di Desa Katerban, Donorejo, Kec, Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah selama 3 hari yang beranggota 4 orang yaitu Kawan Sera (Isti Qomah) sebagai Kader Divisi Caving, Kawan Lindri (Andini Dwi) sebagai Kadiv Caving, Kawan Burrruy (Hilmi Ramdhani) dan Kawan Petir (Muhammad Ali) sebagai pendamping.
Divisi Caving melaksanakan penelusuran di Gua Seplawan dan Gua Temanten. Gua Seplawan merupakan gua horizontal yang dapat ditelusuri dengan kisaran kedalaman 500 m dan memiliki keanekaragaman hayati didalamnya. Sabtu, 19 Juli 2025 kami melakukan penelesururan serta pemetaan di Gua Seplawan dan berhasil mendapatkan 26 stasiun dengan jarak telusur sepanjang 300 m. Saat melakukan penelusuran memasuki stasiun ke-4 hingga stasiun ke-7 medan gua yang kami lewati tergenang air hingga mata kaki karena gua tersebut termasuk kedalam gua berair. Selanjutnya, pada stasiun ke-7 hingga ke-13 medan yang kami lewati cendrung kering. Kemudian pada stasiun ke-13 hingga stasiun ke-22 kami menemukan medan gua yang berair lagi bahkan dengan ketinggian air sampai betis orang dewasa. Gua Seplawan merupakan gua berair, sehingga di dalam gua tersebut terdapat sungai kecil yang menjadi habitat bagi banyak udang. Selain berair gua ini juga berlumpur, lumpur tersebut menjadi habitat bagi beberapa jangkrik.
Gua Seplawan merupakan gua wisata yang sudah memiliki fasilitas penerangan berupa lampu yang dipasang pada beberapa titik di dalam gua, sehingga pada dinding gua tersebut banyak ditumbuhi lumut. Keberadaan lumut tersebut dikarenakan adanya sumber cahaya yang mendukung pertumbuhan lumut tersebut. Terdapatnya sumber Cahaya dari beberapa lampu yang dipasang di dalam Gua Seplawan membuat banyak hewan yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap cahaya seperti kelelawar berpindah tempat menuju bagian gua yang lebih gelap. Penulusuran yang kami lakukan di gua Seplawan, kami menemukan beberapa jenis fauna, namun tidak terlalu beragam dan lebih didominasi oleh udang, sedangkan flora lebih didominasi oleh lumut pada dinding gua.
Minggu, 20 juli 2025 kami melanjutkan penelusuran ke Gua Temanten. Gua Temanten merupakan gua vertikal yang kedalamannya belum diketahui. Kami melakukan penelusuran dengan menggunakan peralatan khusus yaitu set SRT. Penelurusan yang kami lakukan mencapai kedalaman 30 m. Gua tersebut merupakan gua yang berjenis multipitch dan kami menulusurinya sampai pada pitch ke-2. Pitch pertama kami menyesuaikan dengan kebutuhan, kami menggunakan Y anchor sebagai lintasan intermediate. Pitch pertama kami juga menemukan berbagai jenis fauna seperti katak, kepiting, dan laba laba. Pitch pertama dinding gua masih ditumbuhi oleh lumut karena masih terkena cahaya matahari. Saat melanjutkan penulusuran menuju pitch kedua kami menemukan beberapa kelelawar yang bersarang pada atap gua. Pitch kedua kami menemukan ruangan yang cenderung luas seperti aula (chamber) yang di dalamnya terdapat fauna seperti kepiting, katak dan jangkrik, tidak terdapat flora didalam gua pada pitch kedua karena sudah memasuki zona gelap gua dan tidak terdapat sumber cahaya dari luar gua. Setelah beberapa saat, kami melanjutkan penulusuran dari pitch kedua menuju lorong di sebelah kanan dari arah kami turun dengan sedikit memanjat. Saat penelusuran kami menemukan lorong sedalam 3 m, Dimana di dalam lorong tersebut banyak ditemukan sarang kelelawar.
Berdasarkan kedua gua yang kami telusuri, kami menemukan perbedaan keberagaman biota di dalam gua yang dipengaruhi oleh intesitas cahaya. Saat menulusuri gua Seplawan, fauna di dalamnya lebih didomisi oleh udang. Sedangkan di gua Temanten memiliki jenis fauna yang lebih beragam. Hal tersebut disebabkan oleh adanya sumber cahaya tambahan dari fasilitas lampu yang dipasang di beberapa titik gua, berbeda di gua temantem yang tidak memiliki penerangan tambahan.
