Mawapala merupakan organisasi kepencintaalaman yang memiliki lima divisi utama, salah satunya Divisi Rafting. Divisi ini berfokus pada kegiatan luar ruang di medan sungai yang menuntut keterampilan teknis, kesiapan fisik, serta pemahaman keselamatan yang matang.Pada tanggal 12–13 Juli 2025, Divisi Rafting Mawapala melaksanakan kegiatan Praktik Lapangan di Sungai Elo, Magelang. Kegiatan ini diikuti oleh kader rafting dengan didampingi tim pendamping, sebagai bentuk implementasi materi yang telah diperoleh selama masa bimbingan. Praktik lapangan ini juga menjadi salah satu syarat pendidikan sebelum pelantikan sebagai Warga Penuh Mawapala.

Sebelum memasuki tahap pengarungan, tim melaksanakan manajemen pra pengarungan yang meliputi briefing, pengecekan peralatan dan logistik, serta penyiapan tim darat dan akses rescue. Tahapan ini menjadi fondasi utama kegiatan karena berkaitan langsung dengan keselamatan dan kelancaran pengarungan.Pada tahap pra pengarungan, dilakukan pengenalan prosedur keselamatan, pengecekan kondisi fisik, serta pendalaman fungsi dan penggunaan perlengkapan seperti helm, pelampung, dayung, dan throwbag. Selain itu, penguasaan river signal juga ditekankan agar komunikasi antarawak di sungai dapat berjalan efektif.

Pengarungan Sungai Elo dimulai pada pagi hari setelah safety briefing. Pada tahap awal, peserta mempraktikkan teknik self rescue, meliputi renang jeram defensif dan agresif. Renang defensif dilakukan dengan posisi tubuh terlentang mengikuti arus dan kaki mengarah ke depan, sedangkan renang agresif dilakukan dengan berenang menuju tepi sungai pada sudut sekitar 45 derajat untuk memotong arus. Peserta juga berlatih kembali naik ke perahu apabila terlempar keluar, sebagai keterampilan dasar keselamatan diri.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan latihan team rescue, seperti menaikkan korban ke perahu serta penggunaan throwrope untuk menolong awak yang hanyut. Mengingat kondisi sungai yang dinamis dan tidak selalu terduga, peserta juga dilatih menghadapi situasi perahu terbalik (flip). Dalam kondisi ini, dipraktikkan teknik flipflop menggunakan flipline untuk mengembalikan perahu ke posisi semula, sekaligus membantu awak agar kembali ke perahu dengan aman.

Saat menghadapi jeram, peserta menerapkan teknik pembacaan jeram dengan metode read and run, yaitu membaca jalur jeram secara langsung dari atas perahu tanpa menghentikan laju arus, guna menentukan lintasan yang paling aman. Selain itu, dilakukan pula pemetaan jeram untuk memahami karakteristik dan morfologi sungai, seperti kemiringan, lebar, panjang, serta kecepatan arus. Data ini bermanfaat sebagai referensi pengarungan selanjutnya sekaligus sebagai bahan edukasi.

Setelah mencapai titik akhir pengarungan, peserta mempraktikkan portaging, yaitu teknik memindahkan perahu beserta perlengkapannya melalui jalur darat menuju lokasi basecamp atau transportasi. Di sela kegiatan, dilakukan istirahat di rest area untuk konsumsi logistik sekaligus diskusi evaluatif terkait teknik yang telah dipraktikkan.Pada malam hari, kegiatan diisi dengan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh rangkaian praktik lapangan, mulai dari tahap persiapan, pelaksanaan, hingga kendala yang dihadapi di lapangan.

Secara umum, praktik lapangan rafting di Sungai Elo berjalan dengan lancar dan sesuai tujuan. Kader mampu mengaplikasikan teori ke dalam praktik nyata, meningkatkan keterampilan teknis, serta memperkuat solidaritas tim. Kegiatan ini juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan sungai. Sungai Elo tidak hanya menjadi arena petualangan, tetapi juga laboratorium alam yang kaya akan nilai edukatif, historis, dan sosial. Melalui kegiatan ini, diharapkan Mawapala dapat melahirkan kader-kader rafting yang tangguh, berkompeten, dan berperan aktif sebagai agen pelestarian lingkungan perairan.