
Gunung raung merupakan gunung berapi aktif di jawaTimur yang terkenal sebagai salah satu gunung paling menantang untuk didaki karena jalur ekstremnya. Gunung ini juga terkenal dengan kaldera terbesar di Jawa, ketinggian sekitar 3.344 mdpl, gunung raung terletak diwilayah banyuwangi, Bondowoso, dan jember dijuluki sebagai ibu dari ribuan bukit kecil jember. Jalur pendakian via sumberwringin merupakan jalur kalsik yang menantang yang memiliki medan bervariasi dari kebun kopi hingga tanjakan terjal yang berbatu di jalur pendakian menuju puncak, juga melewati berbagai pos dengan nama – nama yag unik, pada jalur pendakian via sumberwringin memiliki istilah pada penyebutan posnya dengan menggunakan nama pondok, yaitu Pondok Ojek, Pondok Sumur, Pondok Demit, dan Pondok Angin.
Nama Basecamp sumberwringin diambil dari nama desa setempat. Sejarah desa sumberwringin memiliki cerita yang unik yaitu hanya ada satu mata air yang berada pada desa sumberwringin, mata air tersebut keluar dari bawah pohon beringin besar yang ada pada tersebut, kemudian warga setempat memberikan nama desa dengan desa sumberwringin yang artinya sumber merupakan mata air dan wringgin artinya pohon beringin dapat diartikan dengan desa yang memiliki sumber air yang berasal dari pohon beringin. Pendakian gunung raung sumberwringin mulai dibuka pada tahun 1913 oleh pemerintahan kolonial belanda.Jalur ini pertama kali digunakan untuk keperluan riset vulkanologi oleh pemerintahan kolonial. Saat ini basecamp sumberwringin dikelola oleh pemuda setempat yang menjadi penerus dari juru kunci gunung raung sumberwringin.
Jalur pendakian via sumberwringin dikenal dengan jalur klasik yang dimana jalur pendakian ini mulai dikenalkan oleh kolonial belanda. Setiap pos disini memiliki julukan yang unik, tidak menggunakan nama pos, tetapi menggunakan julukan pondok.
Pos 1 Pondok Motor
Perjalanan awal dimulai dari basecamp menuju Pos 1. Track pada jalur ini masih relatif landai, melewati perkebunan kopi milik warga. Udara sejuk khas pegunungan masih terasa, Estimasi waktu tempuh dari basecamp ke Pos 1 adalah sekitar 4-5 jam dengan berjalan kaki. Selain berjalan kaki pihak basecamp juga menyediakan jasa ojek sampai ke pos 1. Pos ini dinamakan Pondok Motor karena menjadi batas akhir kendaraan bermotor bisa menjangkau jalur.
Pos 2 Pondok Sumur
Setelah pos 1 vegetasi mulai rapat dan tanjakan mulai curam, sejarah pondok sumur terdapat sebuah sumur yang biasa digunakan seorang pertapa sakti asal Gresik. Sumur dan pertapa itu dipercaya masih ada, hanya saja tak kasat mata. Di pos ini terdapat area datar yang cukup untuk mendirikan beberapa tenda. Istirahat sejenak sangat disarankan.
Pos 3 Pondok Demit
Trek menuju pos 3 sangan menantang mental karena tanjakan yang mulai curam sangat menguras tenaga. Sejarah pos ini terkenal dengan tempat aktivitas jual-beli para lelembut atau dikenal dengan Parset (Pasar Setan). Sehingga, pada hari-hari tertentu akan terdengar keramaian pasar yang sering diiringi dengan alunan musik. Lokasi pasar setan terletak disebelah timur jalur, sebuah lembah dangkal yang hanya dipenuhi ilalang setinggi perut dan pohon perdu.
Pos 4 Pondok Mayit
Setelah melewati tanjakan curam pada jalur ini mulai landai dan vegetasi mulai terbuka. Pondok Mayit adalah pos yang sejarahnya paling menyeramkan, karena dulu pernah ditemukan sesosok mayat yang menggantung di sebuah pohon. Mayat itu adalah seorang bangsawan Belanda yang dibunuh oleh para pejuang saat itu. Nama Pondok Mayit mungkin terdengar seram, namun ini adalah area camp yang nyaman.
Jalan menuju puncak adalah jalur maut karena kanan-kiri adalah jurang. Lebar jalur kurang lebih setengah meter dan sedikit berpasir. Ketelitian, kesabaran, dan kerja sama sangat dibutuhkan. Di tengah jalan, ketika berbalik, kita akan melihat pemandangan yang luar biasa yaitu deretan pegunungan Jawa Timur seperti Gunung Semeru, Argopuro, Ijen, Kawah Wurung, Kawah Ilalang. Setelah berhenti beberapa kali, akhirnya kami berhasil tiba di puncak. Kaldera Raung nampak jelas di depan mata. Memiliki kedalaman hingga 500 meter, kaldera ini merupakan kaldera kering yang terbesar di Pulau Jawa dan terbesar kedua di Indonesia setelah Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat.
Warga Desa Sumber Wringin Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, menggelar kegiatan Nyonteng Kolbuk dan selamatan hasil bumi sebagai wujud syukur sekaligus menjaga sumber mata air. Rangkaian kegiatan ritual tersebut diantaranya adalah doa bersama dan sedekah bumi di titik sumber mata air (Kolbuk). Hal itu sebagai wujud syukur karena sumber mata air itu telah menjadi sumber penghidupan, untuk mengairi sawah dan untuk dikonsumsi. Kemudian warga menyembelih seekor kambing. Kepala kambing tersebut dipendam, sementara dagingnya dimakan bersama warga. Masyarakat yang berada di lereng Gunung Raung itu juga melakukan arak-arakan hasil bumi. Seperti sayuran, buah-buahan, padi dan komoditas lainnya. Adapun rangkaian seremonial terdiri dari nyonteng kolbuk. Sebelum ritual warga menyembelih kambing, kepala kambing dipendam dan dagingnya dimasak oleh kaum pria. Sumberwringin dijadikan desa budaya karena Festival Bumi Raung juga rutin dilaksanakan setiap tahun, juga dilaksanakan tradisi macopat, pasar tani desa, iring-iringan gunungan hasil bumi, dan pelepasan merpati.
Masyarakat setempat juga terbantu dengan adanya pendaki via sumberwringin karena dapat meningkatkan perekonomian warga setempat. Adanya ojek juga dapat membantu pendaki untuk dampai pada pos tanpa harus berjalan lama untuk mencapai puncak. Ojek via sumberwringin dikelola oleh warga setempat sehingga dapat meningkatkan ekonomi warga sekitar. Dampak dari adanya pendakian jalur ini sangat banyak dirasakan oleh warga, karena secara tidak langsung pendaki juga dapat menjaga kebersihan gunung raung, gunung raung merupakan gunung terbersih disepanjang track.
Flora fauna digunung raung sangat lestari karena warga disini tidak pernah berburu bahkan mengambil tumbuhan yang hampir punah. Warga sekitar juga sering menambahkan fauna pada even even tertentu, sehingga menambah banyak jenis hewan di gunung raung. Warga juga melakukan reboisasi agar hutan di lereng gunung raung tetap terjaga keasriannya. Hewan yang banyak mendominasi adalah lutung dan monyet. Pada pos 2 pondok sumur menjadi tempat habitat babi hutan ada juga kideng (rusa), macan kumbang juga berada pada area pos 2. Tumbuhan areh sangat mendominasi gunung raung, tumbuhan tersebut dapat ditemukan di pondok motor sampai pondok angin, setiap kami berjalann selalu disuguhi dengan tumbuhan areh. Selain itu tumbuhan ini buahnya juga bisa dimakan dan biasanya dibuat rujak oleh warga sekitar.
Tinggalkan Balasan