{"id":1564,"date":"2024-01-05T23:39:04","date_gmt":"2024-01-05T16:39:04","guid":{"rendered":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/?p=1564"},"modified":"2024-01-05T23:39:04","modified_gmt":"2024-01-05T16:39:04","slug":"five-step-for-belay","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/index.php\/2024\/01\/05\/five-step-for-belay\/","title":{"rendered":"FIVE STEP FOR BELAY"},"content":{"rendered":"\n<p>Oleh : Sabrina Ayu Yanuaresti<\/p>\n\n\n\n<p><em>Belay<\/em> adalah teknik untk menghentikan tali pada saat pemanjatan. Alat-alat yang digunakan untuk belaying adalah <em>harness, carabiner screw <\/em>dan <em>snap, figur of eight\/ grigi\/autostop <\/em>dan helm.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"484\" height=\"364\" src=\"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/image-6.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-1565\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Teknik <em>belaying<\/em> yang baik : <\/strong>setiap detik setiap tangan memegang tali rem dengan erat. Selalu dalam posisi mengerem<em>(brake position)<\/em>kecuali saat menarik tali. Jangan memegang tali rem terlalu dekat dengan alat belay, tangan anda bisa terjepit alat belay bila climber jatuh. Jangan berdiri terlalu jauh dari jalur agar anda tidak terseret ketika <em>climber<\/em> jatuh,satu kaki selalu di depan kaki yang lain untuk menguatkan kuda-kuda anda. Waspadai jatuh yang mengayun (pendulum) agar climber tidak tersangkut tali. Berusahalah mengantisipasi jatuhnya climber, kenali tanda-tandanya, contohnya adalah bergetarnya kaki <em>climber<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Sedangkan <em>hanging belay<\/em> adalah suatu teknik <em>b<\/em><em>e<\/em><em>lay<\/em> dimana dalam suatu pemanjatan, <em>b<\/em><em>e<\/em><em>lay<\/em> nya dari tengah. Biasanya digunakan dalam pemanjatan <em>alphine push<\/em>. Alat yang digunakan dalam <em>hanging belay<\/em> <em>yaitu harness, carabiner screw<\/em> dan <em>snap, sling\/webing<\/em> maupun <em>prusik, figur of eight, chock and friend<\/em>, helm, sepatu panjat.<\/p>\n\n\n\n<p>Cara melakukan <em>hanging belay<\/em>, yaitu:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\" type=\"a\">\n<li><em>Leader<\/em> dan <em>Belayer<\/em> melakukan kesepakatan dengan mengkomunikasikan kode pemanjatan bahwa pemanjat siap melakukan pemanjatan dan <em>Belayer<\/em> siap melakukan <em>b<\/em><em>e<\/em><em>laying.<\/em><\/li>\n\n\n\n<li>Pemanjat pertama atau <em>Leader<\/em> mulai memanjat dengan sistem <em>runner to runner<\/em>.<\/li>\n\n\n\n<li>Setelah sampai tengah tebing atau yang sudah ditargetkan. <em>Leader<\/em> membuat pengaman dengan menggunakan sling webing\/<em>prusik<\/em>. Yaitu dengan mengaitkan <em>sling<\/em> pada lubang tembus maupun rekahan batu alam atau bisa juga dengan menggunakan <em>chock<\/em> and <em>friend<\/em>.<\/li>\n\n\n\n<li>Kemudian membuat pengaman minimal 2 buah pengaman untuk <em>anchor hanging belay<\/em> dan 2 buah pengaman untuk pemanjat utama atau pemanjat selanjutnya dan memastikan bahwa pengaman tersebut sudah aman atau tidak<\/li>\n\n\n\n<li>Jika dirasa sudah aman pemanjat&nbsp; menginstruksikan kepada <em>Belayer<\/em> dengan kode pemanjatan <em>belay off<\/em>.<\/li>\n\n\n\n<li>Kemudian pemanjat utama memasang <em>carabiner screw<\/em> ke masing-masing <em>sling<\/em> yang sudah dibuat tadi<\/li>\n\n\n\n<li>Setelah&nbsp; buat simpul pangkal dari tali carmantel ke masing-masing <em>sling<\/em> yang sudah diberi <em>carabiner screw<\/em> untuk dijadikan <em>anchor hanging belay.<\/em><em><\/em><\/li>\n\n\n\n<li>Kemudian ambil tali carmantel yang menjulur kebawah lalu dipasang &nbsp;ke <em>figur of eight<\/em> untuk mem<em>belay <\/em>pemanjat ke 2 .<\/li>\n\n\n\n<li>Kemudian setelah semua siap. Yang awalnya jadi <em>Leader<\/em> kemudian menjadi <em>Belayer<\/em> dan yang awalnya <em>Belayer<\/em> menjadi pemanjat kedua<\/li>\n\n\n\n<li>Ketika pemanjat kedua siap. Maka pemanjat menginstruksikan kode pemanjatan bahwa dia sudah siap dengan kode <em>on <\/em><em>be<\/em><em>lay<\/em>.&nbsp;<\/li>\n\n\n\n<li>Kemudian pemanjat kedua mulai melakukan pemanjatan sekaligus melakukan <em>cleaning runner<\/em> yang sebelumnya digunakan oleh pemanjat pertama.<\/li>\n\n\n\n<li>Jika sudah mendekati <em>Belayer<\/em>. Si pemanjat kedua menjadi <em>Belayer <\/em>dan pemanjat pertma siap meneruskan pemanjatan. Begitu seterusnya hingga sampai dengan <em>top<\/em> tebing atau <em>top<\/em> yang ditentukan oleh pemanjat.<\/li>\n<\/ol>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : Sabrina Ayu Yanuaresti Belay adalah teknik untk menghentikan tali pada saat pemanjatan. Alat-alat yang digunakan untuk belaying adalah harness, carabiner screw dan snap, figur of eight\/ grigi\/autostop dan helm. Teknik belaying yang baik : setiap detik setiap tangan memegang tali rem dengan erat. Selalu dalam posisi mengerem(brake position)kecuali saat menarik tali. Jangan memegang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"pagelayer_contact_templates":[],"_pagelayer_content":"","footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-1564","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1564","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1564"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1564\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1566,"href":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1564\/revisions\/1566"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1564"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1564"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1564"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}