{"id":1776,"date":"2024-06-24T18:15:00","date_gmt":"2024-06-24T11:15:00","guid":{"rendered":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/?p=1776"},"modified":"2025-01-24T06:29:07","modified_gmt":"2025-01-23T23:29:07","slug":"petualangan-nirwana-mengungkap-pesona-tersembunyi-di-hutan-mendolo","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/index.php\/2024\/06\/24\/petualangan-nirwana-mengungkap-pesona-tersembunyi-di-hutan-mendolo\/","title":{"rendered":"Petualangan Nirwana: Mengungkap Pesona Tersembunyi di Hutan Mendolo"},"content":{"rendered":"\n<p>Desa Mendolo terletak di Kecamatan Lebakbarang Kabupaten Pekalongan, lokasi ini<br>masuk salah satu dari 16 lokasi prioritas untuk habitat Owa di Jawa Tengah. Hutan Mendolo<br>terletak di sekitar Desa Mendolo, juga merupakan kawasan hutan dengan status hutan<br>produksi, yang masuk dalam pengelolaan Perum Perhutani, KPH Pekalongan Timur. Hutan<br>Mendolo berada diketinggian 600 mdpl dengan luas 140,11ha\/m2<br>.<br>Desa Mendolo terdiri dari beberapa dusun, termasuk Dusun Mendolo Wetan, Dusun<br>Mendolo Kulon, Dusun Krandegan, dan Sawahan. Perjalanan antar dusun memakan waktu<br>sekitar 1\/5 jam. Hutan Mendolo memiliki beberapa wilayah bukit yang berbeda. Meskipun<br>demikian, satwa endemik di wilayah ini tetap terdapat persamaan dengan satwa dari wilayah<br>bukit lainnya, perbedaannya terletak pada spesies tumbuhannya. Selain itu, Program<br>penanaman dilakukan oleh Paguyuban Petani Mendolo (PPM), fokusnya adalah tanaman<br>jangka panjang seperti pohon kopi, bedon, bringin kluek, dan durian. Tanaman-tanaman ini<br>tidak hanya untuk konservasi pertanian tetapi juga untuk mendukung perkembangan owa<br>karena mayoritas habitatnya terletak di perbukitan.<br>Sebelum masuk ke Desa Mendolo kita sudah di sambut dengan suasana dari kawasan<br>tersebut, dengan keaslian alamnya dan sungai yang berada di bawah bukit Mendolo masih<br>terjaga ekosistemnya, salah satunya yaitu sungai yang di buktikan dengan keberadaan ikan<br>yang masih hidup dikarenakan air sungai masih sangat jernih dan terjaga dari bahaya yang<br>mengancam. Dengan berdirinya papan informasi terkait peraturan \u201ctidak boleh mengambil<br>jenis ikan yang berada di sungai dengan cara apapun\u201d guna menjaga ekosistem ikan<br>tersebut agar tetap lestari.<br>Desa Mendolo memiliki sebuah komunitas yaitu Paguyuban Petani Muda (PPM).<br>Komunitas tersebut merupakan sebuah komunitas pemuda pengamat yang terbentuk pada<br>tahun 2019. Awal mula terbentuknya komunitas tersebut terdapat 10 orang dan seiring<br>berjalannya waktu kini bertambah menjadi 15 orang yang terdiri dari Pengelola Hutan<br>Mendolo dan terdapat beberapa divisi didalamnya. Komunitas tersebut memiliki banyak<br>program kerja didalamnya. Mereka memanfaatkan desanya menjadi sebuah desa ekowisata<br>dimana mereka melibatkan masyarakat sekitar dalam pengelolaan Hutan Mendolo. Konsep<br>ekowisata tersebut warga turut terlibat dalam peningkatan perekonomian dengan cara<br>memanfaatkan rumah mereka sebagai tempat penginapan setiap pengunjung yang datang.<\/p>\n\n\n\n<p>PPM merupakan paguyuban petani mendolo yang terbentuk karena pengelolaan dan<br>pengolahan kebun kopi di desa Mendolo. Terbentuknya PPM Mendolo berawal pada tanggal<br>18 Agustus 2019 yang memliki fokus pada pengelolaan dan pengolahan perkebunan kopi.<br>Desa Mendolo tidak hanya fokus pada pengolahan dan pengelolaan perkebunan kopi tetapi<br>mereka mulai melakukan penanaman dan pengembangan tanaman durian. Pada Tahun 2020<br>dilaksanakan trip durian di Desa Mendolo yang mendatangkan pengunjung dari berbagai<br>daerah, sebagian dari pengunjung tersebut melihat kekayaan tersembunyi di Desa Mendolo.<br>Kekayaan yang tersembunyi yang dimaksudkan adalah banyaknya spesies burung<br>mempesona yang menarik minat sebagian pengunjung trip durian, beberapa dari mereka<br>merupakan fotografer. Sebagian pengunjung trip durian yang menyadari akan hal itu<br>memberikan saran kepada pengelola Hutan Mendolo untuk mulai melakukan pengamatan<br>terhadap burung-burung di Hutan Mendolo. Setelah kegiatan trip durian para pengelola Hutan Mendolo mulai melakukan observasi, dan mereka menemukan suatu fakta bahwa burungburung yang berada di Hutan Mendolo dapat membantu dalam penyerbukan pada tumbuhan yang mereka tanam. Selain itu, trip durian juga membawa dampak positif bagi perekonomian<br>mereka, karena banyaknya fotografer yang datang karena penasaran dengan keindahan<br>burung di Hutan Mendolo. Secara tidak langsung mereka menjual burung tersebut tanpa<br>mengganggu siklus kehidupan dan mengambil mereka dari habitat aslinya. Tergugah dari<br>para pengunjung trip durian PPM Hutan Mendolo mulai melakukan konservasi dan<br>pengamatan terhadap spesies burung yang tersebar di Hutan Mendolo. Dorongan yang<br>muncul dari para wisatawan tersebut kini memberikan banyak dampak positif terhadap PPM<br>Hutan Mendolo serta warga sekitar. Mulai banyak orang yang datang karena penasaran<br>ataupun memiliki tujuan tertentu seperti penelitian dan pengambilan gambar untuk para<br>fotografer. Warga juga mendapatkan dampak positif dalam perekonomian mereka karena<br>Desa Mendolo telah dikonsep menjadi desa ekowisata yang melibatkan warga sekitar dalam<br>penyediaan penginapan untuk para pangunjung. Selain itu warga juga turut berperan dalam<br>konservasi serta penglolaan kebun kopi dan durian yang berada di Desa Mendolo.<br>Program kerja lainnya yaitu Paguyuban Petani Muda (PPM) menggelar acara tahunan<br>yang disebut &#8220;Ramban&#8221; untuk merayakan Hari Pangan. Dalam acara ini, semua warga<br>mengumpulkan hasil panen tanaman atau sayuran, lalu mengolahnya menjadi makanan yang<br>kemudian dinikmati bersama. Melalui kegiatan ini, PPM Mendolo dapat mengidentifikasi dan<br>mempelajari ragam jenis makanan yang sesuai untuk dikonsumsi oleh penduduk lokal.<br>Saat menjalani program kerja, PPM memiliki beberapa kendala yang dihadapi salah<br>satunya masih adanya pemburuan liar yang terjadi di sekitar lingkungan mereka. Upaya yang<br>dilakukan untuk mengatasi hal ini adalah melakukan patroli rutin di setiap lokasi untuk<br>mencegah kejadian pemburuan liar. Selain itu, mereka juga memasang papan peringatan di<br>area-area tertentu agar jelas bahwa kawasan tersebut terlarang bagi pemburu pada malam<br>hari, sehingga pemburu tidak dapat bersiap-siap untuk berburu.<\/p>\n\n\n\n<p>Kegiatan yang kami lakukan menemukan banyak keindahan tersembunyi di Hutan<br>Mendolo. Kami menemukan banyak keanekaragaman flora dan fauna yang ada di Hutan<br>Mendolo. Vegetasi yang mendominasi yaitu kopi karena dari masyarakatnya sendiri<br>memanfaatkan dari tumbuhan tersebut sebagai mata pencarian mereka. Tidak hanya kopi<br>banyak vegetasi yang hidup di Hutan Mendolo antara lain pohon durian, kluwek, pohon<br>beringin, dan masih banyak lagi. Selain vegatasi yang tumbuh di Hutan Mendolo, terdapat<br>beberapa jenis fauna terutama jenis burung yang dapat di jumpai di Kawasan Mendolo itu<br>sendiri diantaranya, Sepah Hutan (Pericrocotus flammeus), Elang Jawa (Nizatus bartelsi),<br>Luntur Harimau (Harpactes oreskios), Bondol Blingis (Erythrura parasina), Cekakak Batu<br>(Lacedo pulchella), Merbah Corak-corak (Pycnonotus simplex), Delimukan Zamrud<br>(Chalcophaps indica), Takur Tenggaret (Psilopogo), Alap-alap (Falconidae), dan Walet<br>Linci (Apodidae).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Desa Mendolo terletak di Kecamatan Lebakbarang Kabupaten Pekalongan, lokasi inimasuk salah satu dari 16 lokasi prioritas untuk habitat Owa di Jawa Tengah. Hutan Mendoloterletak di sekitar Desa Mendolo, juga merupakan kawasan hutan dengan status hutanproduksi, yang masuk dalam pengelolaan Perum Perhutani, KPH Pekalongan Timur. HutanMendolo berada diketinggian 600 mdpl dengan luas 140,11ha\/m2.Desa Mendolo terdiri dari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"pagelayer_contact_templates":[],"_pagelayer_content":"","footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-1776","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1776","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1776"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1776\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1777,"href":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1776\/revisions\/1777"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1776"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1776"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1776"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}