{"id":218,"date":"2023-05-07T16:37:31","date_gmt":"2023-05-07T09:37:31","guid":{"rendered":"http:\/\/mawapala.org\/?p=218"},"modified":"2023-05-07T16:37:31","modified_gmt":"2023-05-07T09:37:31","slug":"peringatan-hari-bumi-tanam-mangrove","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/index.php\/2023\/05\/07\/peringatan-hari-bumi-tanam-mangrove\/","title":{"rendered":"PERINGATAN HARI BUMI &#8220;TANAM MANGROVE&#8221;"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-219\" src=\"https:\/\/mawapalauinsmg.files.wordpress.com\/2017\/04\/img_9582.jpg\" alt=\"\" width=\"676\" height=\"451\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Semarang, 22 April 2017. Pada hari sabtu ini semangat dari panitia Hari Bumi Mahasiswa Walisongo Pecinta Alam ( MAWAPALA ) UIN Walisongo Semarang secerah dan seterang pagi ini, karena hari ini akan diadakan penanaman mangrove, kelanjutan dari serangkaian kegiatan peringatan Hari Bumi yaitu seminar lingkungan dan penanaman mangrove, penanaman ini diadakan di daerah pesisir pantai di Desa Mangunharjo, Tugu, Semarang.<\/p>\n<p>Acara penanaman ini didukung oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Semarang, dan Bapak Sururi, beliau selaku pengelola dan pemerhati mangrove di Desa Mangunharjo sejak tahun 1997 dan sampai sekarang masih aktif.<\/p>\n<p>Pukul 07.00 WIB pagi panitia sudah bersiap-siap dan berkumpul di depan GSG UIN Walisongo Semarang untuk berangkat bersama peserta dari kalangan mahasiswa berbagai Fakultas di UIN dan ada beberapa peserta dari luar yang turut serta berpartisipasi dalam kegiatan ini. Dimulai dengan arahan dari penitia dan do\u2019a bersama sebelum akhirnya berangkat menggunakan bis UIN pukul 08.00 WIB.<\/p>\n<p>Sampai tempat pak Sururi sekitar pukul 08.50 WIB, diadakan upacara pembukaan terlebih dahulu pukul 09.00 WIB, upacara berisi sambutan oleh ketua panitia, ketua umum MAWAPALA, dan Bapak Sururi dan ditutup dengan do\u2019a oleh kawan Faisal Ghony. Lalu disambung dengan pengarahan oleh koordinator lapangan untuk pembagian kelompok dan penanggung jawab setelah itu peserta langsung berangkat menuju tempat penanaman.<\/p>\n<p>Sampai tempat penanaman pukul 09.45 WIB peserta mendapat pengarahan lagi dari pak Sururi tentang bagaimana cara menanaman bibit mangrove yang baik dan beberapa nasihat yang disampaikan oleh beliau. Kata-kata yang paling berkesan adalah ketika beliau berkata, \u201c Kapan berhenti menanam ? saat bumi sudah tidak ada lagi, sampai manusia sudah tiada, sampai saat itulah kita berhenti menanam. \u201c<img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-220\" src=\"https:\/\/mawapalauinsmg.files.wordpress.com\/2017\/04\/img_9624.jpg\" alt=\"\" width=\"676\" height=\"451\"><\/p>\n<p>Penanaman berlangsung sekitar satu jam setengah atau sampai sekitar 11.15 WIB, peserta berkumpul dan bersama kembali untuk bersih-bersih dan makan siang. Setelah bersih-bersih dan makan siang usai, sekitar pukul 12.50 WIB peserta berkumpul di depan rumah pak Sururi dan dilangsungkan upacara penutupan, do\u2019a bersama dan tos dengan yel-yel jika ada pekikan \u201c mangrove ?! \u201c maka serentak dijawab \u201c Lesari !!!&#8230; \u201c<\/p>\n<p>Kegiatan berlangsung cukup menyenangkan dan berkesan. Semoga kegiatan ini bisa terus ada dan bisa memberi dampak yang lebih baik untuk lingkungan sekitar khusunya pesisir di Semarang. Salam Lestari &#8230; !<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Semarang, 22 April 2017. Pada hari sabtu ini semangat dari panitia Hari Bumi Mahasiswa Walisongo Pecinta Alam ( MAWAPALA ) UIN Walisongo Semarang secerah dan seterang pagi ini, karena hari ini akan diadakan penanaman mangrove, kelanjutan dari serangkaian kegiatan peringatan Hari Bumi yaitu seminar lingkungan dan penanaman mangrove, penanaman ini diadakan di daerah pesisir [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"pagelayer_contact_templates":[],"_pagelayer_content":"","footnotes":""},"categories":[2,7],"tags":[],"class_list":["post-218","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","category-lingkungan-hidup"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=218"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1352,"href":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/218\/revisions\/1352"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=218"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=218"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=218"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}