{"id":654,"date":"2020-04-22T00:25:22","date_gmt":"2020-04-21T17:25:22","guid":{"rendered":"http:\/\/mawapala.org\/?p=654"},"modified":"2023-05-07T16:35:07","modified_gmt":"2023-05-07T09:35:07","slug":"zerowaste-siapa-takut","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/index.php\/2020\/04\/22\/zerowaste-siapa-takut\/","title":{"rendered":"Zerowaste, Siapa Takut!"},"content":{"rendered":"<figure style=\"width: 1024px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-657 size-full\" title=\"Dok. Google\" src=\"https:\/\/mawapalauinsmg.files.wordpress.com\/2020\/04\/zero-waste-in-bali1386203032.jpg\" width=\"1024\" height=\"1024\" \/><figcaption class=\"wp-caption-text\"><cite><cite><cite><cite><\/cite><\/cite><\/cite><\/cite><cite><cite><cite><cite><\/cite><\/cite><\/cite><\/cite>Dok. https:<cite>\/\/i2.wp.com\/hydromedbali.com\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/Zero-Waste-in-Bali<\/cite><\/figcaption><\/figure>\n<p><cite>Zerowaste<\/cite> merupakan gaya hidup yang mendorong untuk mengurangi dan sebisa mungkin menghindari <em>single use plastic<\/em> atau pemakaian barang sekali pakai dari bahan yang sulit terurai oleh alam. <em>Zerowaste<\/em> secara signifikan dapat mengurangi kebiasaan konsumtif plastik dan berinvestasi di masyarakat demi masa depan bumi dan anak cucu kita. Karena Indonesia sendiri masih membutuhkan solusi untuk dapat mendaur ulang sampah yang dari hari ke hari kian meroket jumlahnya.<\/p>\n<p><!--more--><\/p>\n<p>Produksi sampah di Indonesia dari tahun ke tahun bukannya menurun, justru naik secara signifikan. Laporan Ibu Siti Nurbaya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, bahwa produksi sampah nasional Indonesia pada tahun 2019 mencapai sekitar 183.000 ton per hari atau sekitar 66 juta ton pertahun, padahal tahun sebelumnya jumlah sampah hanya 64 juta ton. Hal ini membuktikan adanya kenaikan jumlah sampah yang signifikan. Sampah-sampah itu terdiri dari 60% sampah organik dan 15% sampah plastik. Namun dari studi KLHK menyatakan bahwa hanya 7% sampah yang dapat di daur ulang dan 69% lainnya hanya ditimbun di TPA.<\/p>\n<p>Sampah-sampah itu berasal dari sampah rumah tangga dan kegiatan usaha. Sampah yang berakhir di TPA hanya sekitar 40-60% saja, sisanya terbuang sembarangan. Data dari <em>The World Bank<\/em> tahun 2018, 87 kota di pesisir pantai Indonesia menyumbang sekitar 1,27 juta ton sampah ke laut, sampah itu terdiri dari 9 juta ton sampah plastik dan 3,2 juta ton sedotan plastik. Dari data tersebut Indonesia menempati negara ke-2 setelah China yang memiliki jumlah pencemaran ke laut tertinggi di dunia.<\/p>\n<figure id=\"attachment_655\" aria-describedby=\"caption-attachment-655\" style=\"width: 1200px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-655\" src=\"https:\/\/mawapalauinsmg.files.wordpress.com\/2020\/04\/12211.jpeg\" alt=\"12211\" width=\"1200\" height=\"1200\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-655\" class=\"wp-caption-text\">Negara-negara yang paling mencemari lautan. Sumber: Statista.com<\/figcaption><\/figure>\n<p>Mengapa plastik itu membahayakan? Karena plastik sulit terurai di tanah lantaran rantai karbonnya yang panjang, sehingga sulit diurai oleh mikroorganisme. Selain itu mulai dari pembuatan hingga sampahnya menghasilkan emisi karbon yang tinggi, sehingga berkontribusi dalam perubahan iklim di bumi dan menyebabkan kondisi bumi kian memanas. Begitu juga ketika sampah plastik dibuang sembarangan dan tidak diolah dengan baik, akan menimbulkan kerusakan pada alam. Apalagi di dukung dengan Indonesia yang belum memiliki sistem pengelolaan sampah dengan baik. Maka dari itu kita perlu langkah untuk mengurangi sampah plastik tersebut salah satu caranya yaitu dengan menerapkan gaya hidup<em> zerowaste.<\/em><\/p>\n<p>Mungkin banyak yang miskonsepsi dengan <em>zerowaste<\/em>, disini memang berarti nol sampah atau bebas sampah, namun bukan berarti mengkriminalkan plastik dan tidak boleh menghasilkan sampah sama sekali, akan tetapi dapat lebih bijak dalam penggunaan plastik dan juga lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. Jika kita bisa tidak menghasilkan sampah kantong plastik dengan menggunakan <em>totebag<\/em> mengapa tidak kita terapkan?<\/p>\n<p>Terdapat miskonsepsi juga yang menganggap <em>zerowaste<\/em> itu mahal. Sebenarnya manfaat dari <em>zerowaste <\/em>sendiri adalah selain meminimalkan sampah, juga menjadi hemat dan sehat. Mungkin terkesan di awal mulai gaya hidup <em>zerowaste<\/em> harus membeli ini itu, tapi sebenarnya hanya diawal saja, selanjutnya kita tidak perlu membeli lagi. Contohnya seperti sedotan tadi, mungkin terlihat mahal untuk satu sedotan saja bisa 15-20 ribu atau ada yang lebih mahal lagi, namun itu hanya dibeli 1 kali saja, berbeda dengan sedotan plastik sekali pakai, memang murah namun terus berulang.<\/p>\n<p><em>Zerowaste<\/em> sendiri bukan merupakan tujuan, namun proses yang tidak instan dan juga mesti dilakukan secara perlahan dengan keinginan untuk mengubah kebiasaan itu secara konsisten. Bea Johnson dari <em>zerowaste home <\/em>mempopulerkan gerakan 5R untuk menciptakan sedikit limbah dan bijak dalam penggunaan sumber daya alam. Gerakan 5R tersebut adalah :<\/p>\n<ol>\n<li><em>Refuse<\/em> atau menolak <em>single use plastic<\/em> atau pemakaian kantong plastik yang tidak perlu.<\/li>\n<li><em>Reduce<\/em> atau mengurangi produk yang menghasilkan banyak sampah, dapat menggunakan produk isi ulang.<\/li>\n<li><em>Reuse <\/em>atau menggunakan kembali, berulang-ulang.<\/li>\n<li><em>Recycle <\/em>atau mendaur ulang.<\/li>\n<li><em>Rot <\/em>atau membusukkan bahan bahan organik menjadi pupuk.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Dari gerakan 5R diatas yang paling utama adalah <em>refuse,reduce <\/em>dan <em>reuse<\/em> jika dari ketiga itu tidak memungkinkan barulah menggunkan <em>recycle<\/em>. Jangan karena gerakan 5R diatas ada <em>recycle <\/em>maka dapat menggunakan produk-produk yang menghasilkan sampah yang sebenarnya bisa kita kurangi dengan berpikir \u201cKan bisa di <em>recycle<\/em>\u201d, contoh kecilnya seperti penggunaan air minum dalam kemasan botol sekali pakai. Karena hal itu bisa diganti dengan menggunakan <em>tumbler <\/em>atau sejenisnya<em>.<\/em><\/p>\n<p>Untuk memulai gaya hidup <em>zerowaste<\/em> tidak harus membeli semuanya diawal, itu bisa dilakukan seiring dengan berjalannya waktu. Langkah sederhananya adalah mulailah dengan menggunkan apa yang tersedia dirumah dulu, memanfaatkan barang yang tidak terpakai, misal kita tidak memiliki <em>totebag<\/em> namun mempunya kaos bekas, itu bisa dimanfaatkan untuk menjadi <em>totebag<\/em>, sudah banyak sekali tutorialnya, kemudian membeli makanan secukupnya, <em>thin<\/em><em>k<\/em><em> before you buy it<\/em>, memulai memisahkan sampah organik dan anorganik. Itu semua adalah langkah awal yang mudah untuk memulai gaya hidup <em>zerowaste<\/em>. Selanjutnya yang bisa dilakukan adalah perbanyak literasi, mengupdate informasi terkait lingkungan dan lainnya yang dapat mendukung gaya hidup <em>zerowaste.<\/em><\/p>\n<p>Sebenarnya mudah, namun untuk memulai dan konsisten didalamnya yang susah. Malu atau takut dalam memulai, jika semua orang berpikir demikian maka tidak akan ada yang mau memulai. Turunkanlah sedikit ego kita dan mulailah dari diri kita untuk turut berkontribusi mengurangi <em>single use plastic<\/em>. Bisa saja orang lain terinspirasi dari apa yang kita lakukan, mungkin menurut kita hal itu sepele seperti memilih menggunakan <em>totebag <\/em>namun itu berhasil mengetuk hati mereka untuk turut mengikuti langkah kita.<\/p>\n<p>Penulis : Aulia Fatra Kamalin (Kawan Are)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Zerowaste merupakan gaya hidup yang mendorong untuk mengurangi dan sebisa mungkin menghindari single use plastic atau pemakaian barang sekali pakai dari bahan yang sulit terurai oleh alam. Zerowaste secara signifikan dapat mengurangi kebiasaan konsumtif plastik dan berinvestasi di masyarakat demi masa depan bumi dan anak cucu kita. Karena Indonesia sendiri masih membutuhkan solusi untuk dapat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"pagelayer_contact_templates":[],"_pagelayer_content":"","footnotes":""},"categories":[2],"tags":[125,157],"class_list":["post-654","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","tag-sampah-plastik","tag-zero-waste"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/654","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=654"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/654\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1340,"href":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/654\/revisions\/1340"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=654"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=654"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mawapala.walisongo.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=654"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}